Minggu, 09 Desember 2012

Wiralodra Tebarkan Islam di Indramayu

RADEN Aria Wiralodra,  seorang putra Adipati Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jateng,  orang pertama yang datang membuka hutan belantara Pedukuhan Cimanuk yang sekarang bernama Kabupaten Indramayu untuk menyebarkan Agama Islam kepada penduduk asli daerah ini.
Raden Aria Wiralodra menyebarkan Agama Islam kepada penduduk asli Indramayu atas utusan atau perintah Sultan Demak. “Jadi kalau ada yang bertanya apakah benar Raden Aria Wiralodra itu membabat hutan membuat Pedukuhan Cimanuk  dengan menyebarkan Islam maka jawabnya  jangan ragu memang benar. Faktanya itu ada,” kata H. Dasuki, 63, pengelola museum mini milik Pemkab Indramayu.
Dijumpai Pos Kota,  H. Dasuki mengemukakan, Raden Aria Wiralodra itu datang ke Indramayu atas utusan (perintah) Sultan Demak. Tugasnya antara lain menyebarkan Islam kepada penduduk asli Indramayu atau yang dahulu bernama  Pedukuhan Cimanuk.
H. Dasuki mengemukakan, salah satu bukti sejarah bahwa Raden Aria Wiralodra diutus Raden Demak menyebarkan Islam kepada penduduk Pedukuhan Cimanuk adalah dibangunnya Masjid Dermayu di Kecamatan Sindang.
Di sekitar Masjid Dermayu itu  terdapat Makam Selawe atau Makam bersemayamnya  25 orang prajurit Raden Aria Wiralodra yang gugur ketika bertarung dengan Nyi Endang Dharma Ayu, kesatria wanita dari tanah seberang (Palembang).
Selain Masjid Dharma Ayu, ada bukti sejarah lainnya yaitu Pedang Suduk. Senjata kebanggaan Raden Aria Wiralodra yang pada kedua belah matanya terdapat tulisan arab gundul berupa Hijib Nasor, suatu amalan yang dapat dipakai dalam mempelajari ilmu tenaga dalam.
Pedang Suduk itu panjangnya sekitar 60 Cm pada bagian atasnya tertera tulisan arab gundul yang kalau dibaca berupa amalan qijib nasor. Pada Pedang Suduk itu pula tertera waktu pembuatannya yaitu pada tahun 1265.
Kini Pedang Suduk itu tersiampan rapi di museum mini Pemkab Indramayu yang terletak di gedung Pancaniti depan Pendopo Pemkab Indramayu. Pedang Suduk selalu dijaga dan dipelihara dengan baik. Sehingga sampai sekarang, generasi muda masih bisa melihat benda bersejarah, peninggalan nenek moyang termasuk pendiri Indramayu yaitu Raden Aria Wiralodra.
Setiap bulan memasuki bulan maulud atau Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Pedang Suduk dan senjata peninggalan leluhur itu dibersihkan,  agar bentuk aslinya tetap terjaga dengan baik.
Ia menambahkan, senjata peninggalan nenek moyang Indramayu sampai sekarang masih banyak tersebar pada ahli waris Raden Aria Wiralodra. Bahkan senjata peninggalan nenek moyang Indramayu itu sampai sekarang lebih banyak tersebar di luar Indramayu. Sebut saja di wilayah Kabupaten Cirebon, seperti daerah gegesik, Arjawinangun dan  sekitarnya serta di Kota Cirebon.
Para ahli waris yang sekarang memelihara senjata peninggalan nenek moyang itu sebetulnya tidak keberatan benda-benda peninggalan sejarah itu  dikumpulkan pada satu tempat seperti bangunan museum di Indramayu. “Kalau dikumpulkan benda-benda peninggalan sejarah itu jumlahnya sangat banyak.  Mungkin ada 3 pedati (dokar) sih,” ujar H. Dasuki.
Ia menambahkan, masih ada sebagian pejabat yang menganggap benda-benda peninggalan nenek moyang Indramayu tidak penting. Kesannya masa bodoh. Bahkan, Masya Allah sampai  ada yang mengatakan, mengumpulkan benda-benda itu musrik.
Padahal benda-benda peninggalan sejarah perlu diketahui oleh para generasi penerus. Tak terkecuali para pelajar. Supara mereka memahami sehingga lebih mencintai Indramayu dan leluhur mereka.